Kamis, 28 Mei 2020

Hendra Lie Pengusaha Merah Putih siapkan Mata Elang Internasional King DOM




                    Pengusaha Hendra Lie

Faktaexpose.com Jakarta- Gigih dan tak gampang menyerah. Predikat ini melekat pada sosok Hendra Lie. Seniman yang kini sukses mengibarkan bendera Mata Elang Internasional Stadium hingga kesohor di seantero negeri. Kegigihannya tampak dari perjalanan hidupnya sebelum meraih puncak.

Dari bisnis tata lampu atau lighting, entertainment production, hingga konser artis internasional serta dibangunnya exibhision hall atau stadium konser. Maka lahirlah  Mata Elang Internasional Stadium (MEIS) pada tahun 2011. Satu brand kebanggaan nasional dengan portfolio kelas dunia.

“Karena kualitas soundsytem kami nomor satu di dunia. Begitupun artis artis yang konesr ditempat kami, mereka yang terbaik,’’ kata Bambang B7

Menjadi nomor satu dan yang terbaik didunia dalam bisnis soudsytem, bukan sekedar klaim di bibir saja. Buktinya, portofolio konser artis dunia berkelas internasional  selalu spekatakuler tersaji di MEIS dan sudah menembus ratusan kali konser. Pengunjung berbagai generasidari penjuru dunia —terutama dari generasi milenial—selalu antusias memadati dan menikmati setiap hentakan musik berpadu tata cahaya memukau dan menghadirkann gemegahan wahhh.

Buktinya, bagaimana Mata Elang production dipercaya menangani konser Rolling Stone di Macau dan di Sydney (Australia). “Kami tangani sound system mereka karena kualitas kami yang terbaik didunia,’’ ungkap Bambang.

Meskipun saat itu (konser di Sydney) batal, tapi konser di Macao tetap berlangsung, hingga beberapa musisi tanah air pun banyak yang pergi menonton Rolling Stone langsung di Macau. Seperti Once dan  Ari Lasso (vokalis Dewa). Keduanya menjadi saksi bagaimana hebatnya Mata Elang  diipercayai menangani show (Rolling Stone) group rock legend dari Amarika, ketika itu.

Itu saja? Tidak. Mata Elang semakin berkibar menyusul konser konser spektakuler dan hebat artis dan musisi internasional lainnya di Indonesia. Mereka hadirkan Bon Jovi, Roxette, Sting, Dream Theatre, Guns N’Roses, Taylor Swift, Bruno Mars, Jennifer Lopez, Beyonce hingga band Korea dan band-band lokal.

Dari sinilah suksestory Hendra Lie sebagai bos Mata Elang dikenal sebagai pemilik kerajaan bisnis tata cahaya pertunjukan, termasuk menghandel openning dan clossing seremony acara Sea Games 2011 di Palembang. Tonggak kesusksesan Mata Elang sudah dimulai sejak dipercaya menangani pembukaan dan penutupan Sea Games 1997 di Gelora Bung Karno, Jakarta.
Ditingkat dunia, property kelengkapan sound system yang dimilikinya ternyata tidak hanya sebatas untuk konser musik, tapi juga untuk even bertaraf internasional.

Tak heran jika Hendra Lie dipercaya menangani Olympiade Sidney Tahun 2000 menggunakan teknologi lighting high and sytem yang dimiliki.
Keputusannya banting stir dari seniman, sejak me manajeri group music cadas God Bless era tahun 1970 hingga tahun 1980-an, kemudian menggeluti dunia showbiz entertain sound system panggung, terbukti berhasil. Tangan dinginnya mengelola Mata Elang Internasional semakin mengukuhkan Hendra Lie sebagai raja bisnis show dan konser internasional. Sekalipun bisnis lain, seperti bisnis property dan perhotelan juga dirambahnya.

“Sebagai pengusaha tentu Pak HL juga ingin berkontribusi terhadap merah putih. Melakukan yang terbaik, ya ini yang bisa beliau lakukan. Otomatis membuka lapangan kerja untuk anak bangsa sekaligus berkontribusi lewat pajak,’’ jelas Bambang.

Jauh sebelum masa pandemi covid19, sebagai pengusaha tentu HL tak berhenti melakukan inovasi dan terobosan agar tetap bisa menggelar konser artis artis internasional di tanah air. Salah satunya tengah menyiapkan gedung Mata Elang Internasional King Dom di PIK 2 Jakarta dan di Bali.

“Syukurlah, sejak tahun 2017 kami dipercaya menjalin kerjasama dengan Agung Sedayu dan Salim Group. Mata Elang Internasional Kingdom sedang dalam progres pembangunan diatas lahan 20 hektar di kawasan PIK, Jakarta dan di Bali. Doain saja. Karena Mata Elang Internasional King Dom lebih besar dan bisa menampung lebih dari 30 ribu penonton. Jadi bukan stadium lagi, melainkan King Dom,’’ pungkas Bambang B7.(red/san)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox