Senin, 04 Januari 2021

Membangkitkan Kembali Pariwisata Indonesia (Respon Pandemi dan Recovery



Faktaexpose.com Jakarta - Sektor Pariwisata masih menjadi sektor yang paling terpukul sebagai akibat dari Pandemi Virus Corona (Covid 19)  dan sepertinya prospek dunia Pariwisata masih belum stabil (uncertainty) di tahun 2021.


Namun ditengah keadaan yang belum menentu, secercah harapan tentang hadirnya vaksin telah menyuntikan energi sekaligus menumbuhkan sikap optimis bahwa ditengah kesulitan pasti ada jalan terang kedepan.


Geliat Pariwisata Domestik telah dimulai di beberapa daerah destinasi wisata, hal ini terasa sangat membantu pemulihan sektor tenaga kerja dan membangkitkan perekonomian setempat, walaupun di beberapa tempat mengalami kedodoran dalam mengadaptasi new normal dan mengimplementasi protokol kesehatan.


Pemerintah dalam kebijakannya untuk mendukung pemulihan sektor pariwisata telah mengambil tindakan yang positif dan proaktif sehingga bisa meredam pukulan terhadap sektor pariwisata, namun pemulihan tersebut masih perlu mendapatkan dukungan dan kerjasama dari semua sektor secara terkoordinasi, menyeluruh dan berkelanjutan. 


Sebaiknya dalam kebijakan pemulihan pariwisata itu  memprioritaskan beberapa aspek seperti:

1. Memulihkan kepercayaan wisatawan

2. Orientasi bisnis pariwisata yang beradaptasi (well adapted) dan bertahan (survive)

3. Penguatan Pariwisata Domestik sembari promosi Pariwisata Internasional yang aman dan sehat.

4. Konsistensi dan kejelasan dalam penyampaian informasi yang update kepada pelaku bisnis dan wisatawan 

5. Memperkuat kerjasama antar Lembaga dan kerjasama antar negara


Dalam hal ini juga pemerintah hendaknya bersikap flexible dalam pemulihan ekonomi pariwisata, harus disadari bahwa pariwisata era sekarang ini hidup berdampingan dengan virus covid 19. Hal ini penting dilakukan untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dengan belajar dari krisis, aksi tanggap dan kesiap-siagaan setiap saat.


Pandemi Covid 19 ini adalah kesempatan untuk memikirkan kembali Pariwisata Indonesia dimasa yang akan datang. Perkembangan pariwisata di dunia sekarang ini sepertinya di simpang jalan, kalau salah dalam mengambil tindakan maka implikasinya akan berdampak jangka panjang, untuk itu beberapa hal tersebut dibawah ini adalah beberapa hal yg perlu di perhatikan:


1. Menunda Program 5 Destinasi Super Prioritas (Postpone 5 DSP)

Dalam kondisi normal program pembangunan pariwasata 5 destinasi super prioritas yang jumlah anggarannya sangat fantastis ini, mencapai Rp 21 Triliun  ini adalah kebijakan yang bagus, namun saat ini akan lebih bijak apabila anggaran pemerintah lebih difokuskan dalam penanggulangan dampak covid 19 sebagaimana tertulis diatas.


Berbagai alasan kenapa 5 destinasi super prioritas sebaiknya di tunda, antara lain adalah saat ini di butuhkan aksi yang cepat dengan hasil yang relative cepat pula (quick action to win) sedangkan untuk pembangunan 5 DSP ini tentunya pembangunan yang memakan waktu relative lama serta hasilnya baru dinikmati 10 atau 20 tahun mendatang.


Secara global Investasi sektor pariwisata mengalami penurunan yang sangat signifikan, seiring degan tutupnya hotel dan beberapa amenitas di destinasi pariwisata, dengan demikian investor kurang berminat untuk berinvestasi di hotel misalnya.  Sementara Destinasi Super Prioritas ini adalah kawasan wisata , walaupun pemerintah yang membangun kawasan dan berbagai insentif di tawarkan kepada swasta untuk membangun hotel, namun sepertinya masih ada kelesuan.



2. Pengembangan Potensi Cruise Line Industri

Tahun 2017 dilaporkan dalam Global Economic Impact dari cruise line industry adalah 26,7 juta wisatawan (passengers), 1,2 juta tenaga kerja terserap dan 134 miliar dollar total transaksi. Sementara itu di tahun yang sama Indonesia  hanya mampu mendatangkan 89,224 wisatawan lewat Cruise Line (kapal pesiar), keadaan ini sangat jomplang sekali.


Potensi pengembangan pariwisata kapal pesiar di Indonesia sangatlah besar, sedangkan pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perkembangan ekonomi sangatlah signifikan. Pengaruh ekonomi dari potensi kapal pesiar tersebut tidaklah hanya bertumpu dari “spending passengers on spot” namun kegiatan bisnis dari barang dan jasa yang di pasok ke kapal pesiar. Selain itu juga kapal pesiar memerlukan dukungan administrasi, agensi, tranportasi dan bentuk-bentuk layanan profesional lainnya.


Ketika negara-negara lain masih sibuk berkutat dalam penanggulan pandemi, maka alangkah baiknya kita memulai dan menyelesaikan pekerjaan rumah tentang hal-hal mendasar seperti, pembenahan manajemen Pelabuhan, sistem air bersih di Pelabuhan, pengolahan sampah, ketersediaan perangkat dan peralatan seperti pengukur arus, kapal tunda sampai dengan kebijakan perizinan untuk bisa masuk di Kawasan seperti Raja Ampat, Pulau Komodo dan sebagainya.



Dalam amanatnya Presiden RI menyatakan bahwa Indonesia harus memanfaatkan situasi ini untuk 'membajak momentum krisis', guna memperbaiki kondisi di dalam negeri, dengan cara-cara seperti efisiensi, kolaborasi dan penggunaan teknologi. 


"Jangan sia-siakan pelajaran yang diberikan oleh krisis. Jangan biarkan krisis membuahkan kemunduran. Justru momentum krisis ini harus kita bajak untuk melakukan lompatan kemajuan," (Jokowi)


ditulis oleh :

Wahyu Indro Widodo, S.S.T Par, M. Par

Dewan Ahli GK Center

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox